Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

Sempurnakan Shalat dengan Zakat

Sempurnakan Shalat dengan Zakat

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (QS 34: 39)
Zakat termasuk salah satu rukun Islam yang wajib secara syar’i untuk dilaksanakan oleh setiap orang Islam. Begitu pentingnya zakat sampai-sampai Abu Bakar As-Shidiq yang terkenal lemah lembut itu ketika menjadi Khalifah dalam menghadapi para pembangkang yang tidak mau membayar zakat pernah mengeluarkan pernyataan bahwa beliau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat. Fenomena yang terjadi saat ini banyak orang shalat tetapi tidak membayar zakat. Oleh karena itu secara umum umat Islam tidak bisa merasakan barakah dari tuntunan zakat itu sendiri. Padahal orang mukmin yang benar itu adalah yang menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat (QS 8: 3-4).

Banyak orang tertipu oleh kehidupan dunia sehingga berlebihan dalam mencintai harta. Mereka tamak dan rakus dalam mencari harta. Tidak kenal aturan main, semua serba diserampang. Tidak kenal teman dan saudara semua ditendang. Tidak peduli halal haram semua yang menghadang diterjang. Sementara itu ketika diseru untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah, kikirnya bukan alang kepalang. Jauh berbeda keadaannya dari orang-orang beriman. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa hidup di dunia ini sifatnya hanya sementara, sedang kehidupan akheratlah yang bersifat kekal. Tujuan hidup mereka adalah untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Sehingga mereka siap mengeluarkan zakat dari harta yang dicintainya untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal di negeri akherat.
zakat-quran-mta
Zakat dalam arti yang lebih luas shadaqah itu sangat penting untuk mendidik kita mengecilkan dunia dan membesarkan akherat. Dengan menyadari akan besarnya nilai akherat, orang akan  menjauhi sifat kikir, karena takut akan kehilangan kebahagiaan akherat. Dia akan berusaha memerangi kekikiran jiwanya dengan bershadaqah. Ketulusan hati dan kesabarannya dalam bersedekah akan membimbing dirinya untuk menjadi orang yang dermawan. Orang seperti inilah yang dicintai oleh penduduk bumi dan langit. Sementara itu ketakutannya akan siksa api neraka yang kekal akan mendorong dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam berbuat taat kepada Allah, antara lain dengan menghindarkan diri dari tamak dan rakus. Kegigihan dan kesungguhannya dalam bertaat kepada Allah akan membimbing dirinya menjadi orang yang bertakwa. Orang seperti inilah yang dikatakan oleh Allah swt sebagai orang yang paling mulia di sisinya.
Dalam skala keluarga, kebiasaan untuk mengeluarkan sedekah akan menjadi tarbiyah bagi anak istri. Mereka terbiasa akan pemandangan indah memberikan bantuan kepada orang lain di sekitar mereka. Rasulullah saw bersabda: “Al yadul’ulya khairumminalyadissufla.” (Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.) Maksudnya orang yang memberi itu lebih baik dari pada orang yang diberi. Di tengah keluarga orang-orang akan tumbuh berkembang anak-anak yang memiliki sifat dermawan.
Tidak hanya berhenti sampai disitu kebiasaan untuk mendahulukan kepentingan ukhrawi daripada duniawi dengan bersedekah akan berimbas pada perubahan orientasi kehidupan keluarga dari duniawi ke ukhrawi. Di dalam keluarga yang berorientasi ukhrawi inilah dimungkinkan tumbuh dan berkembang anak istri yang tangguh dalam keimanan mereka kepada Allah dan hari akhir. Orang-orang seperti inilah yang akan selamat dalam mengarungi kehidupan dunia yang menipu dan menyesatkan. Kesamaan orientasi hidup seluruh anggota keluarga berdampak positif pula terhadap tumbuhnya rasa kebersamaan. Kebersamaan inilah yang akan menjadi modal utama bagi keluarga untuk mengarungi hidup yang serba sulit ini. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Di sisi lain zakat sangat bermanfaat untuk membantu menguatkan orang-orang yang lemah termasuk di dalamnya fakir, miskin, budak, dan orang yang berhutang. Bahkan para muallafpun diharapkan dapat dikuatkan keislaman mereka dengan pemberian zakat. Secara nasional kalau jumlah orang Islam di Indonesia ini ada 200 juta dan yang berpenghasilan rata-rata 10.000 rupiah per hari ada 100 juta orang. Maka kalau mereka sadar mengeluarkan zakat 2,5% dari penghasilannya saja, setiap hari akan terkumpul zakat sebesar 25 milyar rupiah. Dapat kita bayangkan betapa besar manfaatnya bila tuntunan zakat ini bila benar-benar diamalkan orang Islam. Dapat dipastikan dalam waktu yang relatif singkat umat Islam akan maju dengan pesat.
Dengan zakat sebanyak itu sebagian dapat dimanfaatkan untuk menunjang langkah-langkah sabilillah. Untuk membeli pesawat ringan demi menunjang dakwah pada suku terasing. Untuk mendirikan stasiun televisi yang Islami. Untuk membangun sistem pendidikan, ekonomi, dan pertahanan nasional yang lebih berwibawa di mata dunia. Alangkah indahnya bila semua umat Islam yang telah mampu menjaga shalatnya itu menyempurnakan shalat  mereka dengan mengeluarkan zakat. Hanya orang-orang seperti inilah yang yang akan menikmati keindahan hidup di dunia dan akherat 



Laa Ikraha, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui,

وَ اللهُ اَعْلُمُ
Baca selengkapnya

Minggu, 12 Januari 2014

Shalat Jum’at (ke-3)

Shalat Jum’at (ke-3)

Fadlilah hari Jum’at
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ثُمَّ هذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ الْيَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi mendahului pada hari qiyamat. Hanyasaja mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian ini (hari Jum’at) adalah hari yang ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Kemudian Allah menunjuki kita. Maka orang-orang mengikuti kita, orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ اْلجُمُعَةِ. فِيْهِ خُلِقَ ادَمُ وَ فِيْهِ اُدْخِلَ اْلجَنَّةَ وَ فِيْهِ اُخْرِجَ مِنْهَا وَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ اِلاَّ فِى يَوْمِ اْلجُمُعَةِ. البخارى 1: 216
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya (surga), dan tidaklah terjadi hari qiyamat kecuali hari Jum’at. [HR. Bukhari juz 1, hal. 216]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَ اُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَ هذَا يَوْمُهُمِ الَّذِى فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ لَهُ فَهُمْ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ فَاْليَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. مسلم 2: 586
Dari Abu Hurairah, dari Muhammad Rasulullah SAW, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi kita adalah orang-orang yang mendahului pada hari qiyamat, hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita, dan kita diberi kitab sesudah mereka. Dan ini adalah hari yang telah ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Lalu Allah memberikan petunjuk kepada kita tentang hari itu, maka mereka menjadi mengikuti kita. Orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi. [HR. Muslim juz 2, hal. 586]
Ma’mum meninggalkan khathib
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلّى مَعَ النَّبِيّ ص اِذْ اَقْبَلَتْ عِيْرٌ تَحْمِلُ طَعَامًا فَالْتَفَتُوْا اِلَيْهَا حَتَّى مَا بَقِيَ مَعَ النَّبِيّ ص اِلاَّ اثْنَا عَشَرَ رَجُلاً فَنَزَلَتْ هذِهِ اْلآيَةُ (وَ اِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا انْفَضُّوْآ اِلَيْهَا وَ تَرَكُوْكَ قَائِمًا). البخارى 1: 225
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Ketika kami shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba datanglah kafilah yang membawa (bahan) makanan, lalu orang-orang menuju kepadanya, sehingga tidak tinggal bersama Nabi SAW kecuali dua belas orang laki-laki. Kemudian turunlah ayat (yang artinya) : Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya. Dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). [HR. Bukhari juz 1, hal. 225]
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ، فَجَاءَتْ عِيْرٌ مِنَ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ اِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ اِلاّ اثْنَا عَشَرَ رَجُلاً. فَاُنْزِلَتْ هذِهِ اْلآيَةُ الَّتِى فِي اْلجُمُعَةِ (وَ اِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا انْفَضُّوْآ اِلَيْهَا وَ تَرَكُوْكَ قَائِمًا). مسلم 2: 590
Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya Nabi SAW ketika berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba datang kafilah dari Syam, maka orang-orang menuju kepadanya, sehingga tidak tinggal (bersama Nabi) kecuali dua belas orang laki-laki. Kemudian diturunkanlah ayat yang ada dalam surat Jum’at (yang artinya) Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya. Dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). [HR. Muslim juz 2, hal. 590]
Yang wajib shalat Jum’at
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ اِلاَّ اَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ اَوْ امْرَأَةٌ اَوْ صَبِيٌّ اَوْ مَرِيْضٌ. الحاكم، فى المستدراك 1: 425، هذا حديث صحيح على شرط الشيخين
Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at adalah wajib atas setiap orang Islam dengan berjama’ah, kecuali empat golongan : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 425, ini hadits shahih atas syarat Bukhari Muslim]
عَنْ تَمِيْمِ الدَّارِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ وَاجِبَةٌ اِلاَّ عَلَى امْرَأَةٍ اَوْ صَبِيّ اَوْ مَرِيْضٍ اَوْ عَبْدٍ اَوْمُسَافِرٍ. الطبرانى، فى المعجم الكبير 2: 51،
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at itu wajib, kecuali bagi wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya, atau musafir”. [HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 2, hal. 51, dlaif, karena di dalam sanadnya ada Al-Hakam bin ‘Amr, ia tertuduh dusta, dan Dlirash bin ‘Amr Al-Multiy, ia matruk].

Khutbah dan shalat Jum’at

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كُنْتُ اُصَلّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَ خُطْبَتُهُ قَصْدًا. مسلم 2: 591
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW, adalah shalat beliau sedang-sedang saja, dan khuthbah beliau sedang-sedang saja”. [HR. Muslim juz 2, hal. 591]
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَ عَلاَ صَوْتُهُ وَ اشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَاَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُوْلُ صَبَّحَكُمْ وَ مَسَّاكُمْ، وَ يَقُوْلُ بُعِثْتُ اَنَا وَ السَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَ يَقْرُنُ بَيْنَ اِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَ اْلوُسْطَى وَ يَقُوْلُ: اَمَّا بَعْدُ، فَاِنَّ خَيْرَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَ خَيْرُ اْلهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَ شَرُّ اْلاُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا. وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. ثُمَّ يَقُوْلُ اَنَا اَوْلَى بِكُلّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ. مَنْ تَرَكَ مَالاً فَـِلاَهْلِهِ، وَ مَنْ تَرَكَ دَيْنًا اَوْ ضَيَاعًا فَاِلَيَّ وَ عَلَيَّ. مسلم 2: 592
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika berkhutbah, memerah kedua mata beliau, tinggi suaranya, dan sangat marah, sehingga seolah-olah beliau komandan pasukan yang mengomando, “Musuh akan menyerang kalian pada waktu pagi dan petang”. Dan beliau bersabda, “Aku diutus antaraku dan hari qiyamat seperti dua jari ini”. Beliau mengisyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan beliau bersabda, “Adapun sesudah itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu adalah sesat”. Kemudian beliau bersabda, “Aku lebih berhaq terhadap orang mukmin daripada dirinya. Barangsiapa yang meninggalkan harta, maka itu untuk keluarganya. Dan barangsiapa meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka akulah yang menanggung”. [HR.Muslim juz 2, hal. 592]
Surat yang biasa dibaca pada shalat Jum’at
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقْرَأُ فِى اْلعِيْدَيْنِ وَ فِى اْلجُمُعَةِ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلى وَ هَلْ اَتَاكَ حَدِيْثُ اْلغَاشِيَةِ. قَالَ: وَ اِذَا اجْتَمَعَ اْلعِيْدُ وَ اْلجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا اَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ. مسلم 2: 598
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW pernah membaca pada dua shalat, yaitu shalat ‘ied dan shalat Jum’at : Sabbihisma rabbikal a’laadan Hal ataaka hadiitsul ghoosyiyah. Dan apabila berkumpul hari Jum’at dengan hari raya dalam satu hari, beliau membaca kedua surat itu juga dalam kedua shalat itu”. [HR. Muslim juz 2, hal. 598]
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كَتَبَ الضَّحَّاكُ بْنُ قَيْسٍ اِلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ يَسْأَلُهُ اَيَّ شَيْءٍ قَرَاَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ اْلجُمُعَةِ سِوَى سُوْرَةِ اْلجُمُعَةِ. فَقَالَ: كَانَ يَقْرَأُ هَلْ اَتَاكَ. مسلم 2: 598
Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah, ia berkata : Adl-Dlahhaak bin Qais pernah mengirim surat kepada Nu’man bin Basyir menanyakan sesuatu yang Rasulullah SAW baca pada hari Jum’at selain surat Jum’ah. Maka ia menjawab, “Dahulu beliau membaca Hal ataaka”. [HR. Muslim juz 2, hal. 598]
عَنِ ابْنِ اَبِى رَافِعٍ قَالَ: اسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ اَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى اْلمَدِيْنَةِ وَ خَرَجَ اِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى لَنَا اَبُوْ هُرَيْرَةَ اْلجُمُعَةَ فَقَرَأَ بَعْدَ سُوْرَةِ اْلجُمُعَةِ فِى الرَّكْعَةِ اْلاخِرَةِ: اِذَا جَآءَكَ اْلمُنفِقُوْنَ. قَالَ: فَاَدْرَكْتُ اَبَا هُرَيْرَةَ حِيْنَ انْصَرَفَ فَقُلْتُ لَهُ: اِنَّكَ قَرَأْتَ بِسُوْرَتَيْنِ كَانَ عَلِيُّ بْنُ اَبِى طَالِبٍ يَقْرَأُ بِهِمَا بِاْلكُوْفَةِ. فَقَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اِنّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ. مسلم 2: 597
Dari Ibnu Abi Rafi’ ia berkata : Marwan mengangkat Abu Hurairah untuk menjadi wali di Madinah. Dan ketika Marwan ke Makkah, lalu Abu Hurairah shalat Jum’at mengimami kami, kemudian pada rekaat pertama ia membaca surat Al-Jum’ah, dan pada rekaat kedua membaca surat Idzaa jaa-akal munaafiquun. Ibnu Abi Rafi’berkata : Setelah selesai, aku menemui Abu Hurairah, lalu aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu tadi membaca dua surat yang sama seperti dahulu ‘Ali bin Abu Thalib membacanya di Kufah”. Maka Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW membaca keduanya pada hari Jum’at”. [HR. Muslim juz 2, hal. 597]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَقْرَأُ فِى اْلجُمُعَةِ فِى صَلاَةِ اْلفَجْرِ الم تَنْزِيْلُ السَّجْدَةَ وَ هَلْ اَتَى عَلَى اْلاِنْسَانِ، حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ. البخارى 1: 214
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW membaca Alif laam miim, tanziil (As-sajdah), dan Hal ataa ‘alal insaani hiinun minad dahri (Al-Insaan) pada shalat Shubuh di hari Jum’at”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 214]
Mengangkat dua tangan ketika berdoa mohon hujan.
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ ص يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكَ اْلكُرَاعُ وَ هَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ اَنْ يَسْقِيَنَا. فَمَدَّ يَدَيْهِ وَ دَعَا. البخارى 1: 223
Dari Anas, ia berkata : Dahulu Nabi SAW ketika berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, kuda banyak yang binasa, kambing-kambing juga telah binasa. Maka berdoalah kepada Allah agar memberikan hujan kepada kami”. Maka beliau lalu mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa. [HR. Bukhari juz 1, hal. 223]

Berdoa dengan berisyarat jari telunjuk

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَاَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى اْلمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ اْليَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص مَا يَزِيْدُ عَلَى اَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هكَذَا، وَ اَشَارَ بِاِصْبَعِهِ اْلمُسَبّحَةِ. مسلم 2: 595
Dari ‘Umarah bin Ruaibah ia mengatakan bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya (dalam berdoa), kemudian ‘Umarah berkata, “Semoga Allah memburukkan kedua tanganmu itu. Sungguh aku melihat Rasulullah SAW tidak lebih dari melakukan dengan tangannya begini”, ia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya. [HR. Musim juz 2, hal. 595]
Shalat sunnah sesudah Jum’at.
عَنْ اَبِىْ هُرَ يْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيُصَلّ بَعْدَهَا اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. الجماعة الا البخارى
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW pernah bersabda : "Apabila seseorang diantara kalian shalat Jum'ah, maka hendaklah shalat sesudahnya 4 raka'at". [HR Jama'ah, kecuali Bukhari].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُصَلّى بَعْدَ اْلجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ. الجماعة
Dari Ibnu 'Umar RA, bahwasanya Nabi SAW biasa shalat sesudah Jum'ah 2 raka'at di rumahnya. [HR. Jama'ah].
Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Jum'ah, Nabi SAW mengerjakannya 2 raka'at di rumahnya. Sedang menurut hadits yang pertama shalat ba'diyah Jum'ah itu 4 raka'at, maka ini bisa diambil pengertian bahwa yang 4 raka'at itu dikerjakan di masjid. 



Laa Ikraha, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, 

وَ اللهُ اَعْلُمُ
Baca selengkapnya