Siapapun kita manusia pada dasarnya punya keinginan untuk curang. Meminta lebih kalau diberi orang. Dan cenderung mengurangi apabila memberi ke orang lain. Ada yang protes? Ya, begitulah. Bayangkan kita masih anak-anak berumur 8 tahun. Bayangkan ibu kita membagi kue brownies kepada semua anaknya, termasuk kita dan tak lepas saudara kita tentunya. Ibu berusaha membagi dengan adil, karena setiap anak memang berbeda kadarnya. Bayangkan kita bukan anak pertama. Tentu ada sedikit rasa ngiri kenapa kakak tertua mendapat yang paling besar. Sementara kita tidak melirik bahwa adik pun bagiannya yang lebih kecil. Yang kita tahu,”Kok aku cuman dapet sedikit? Gak adil…..!“.
Masa berputar dan waktu berlalu. Kita pun beranjak dewasa dengan perkembangan psikologi yang mengiringi. Perkembangan psikologi tidaklah sama pada setiap orang. Ada yang cepat menjadi dewasa. Bahkan tidak sedikit yang telat menjadi dewasa. Banyak kita temui orang tua yang kekanak-kanakan, kitakah itu?
Perkembangan psikologi sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang sekitar. Dengan bertambahnya usia, akal pun semakin berkembang. Akal yang berkembang itu menjadi sebuah dilemma, bisa bermanfaat atau sebaliknya. Membinasakan.
Kembali ke persoalan curang. Ketika anak-anak, ketika berontak kita hanya bisa diam membisu menerima keputusan sang ibu. Lebih dari itu, paling-paling nangis atau ngambek. Saat dewasa, source yang dimiliki bertambah, akal yang berkembang dan fisik yang semakin kuat. Implikasi dari perkembangan kedua hal tersebut bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari.
Sebuah SMA di Malang nekat memalsukan nilai rapor muridnya yang hendak mendaftar program penelusuran bakat dan minat untuk bisa kuliah di Universitas Brawijaya, universitas kenamaan di kota Bentoel.
“Mau kemana mas?“, tanya seorang tukang becak pada sesosok pemuda yang tampak kebingungan di terminal tirtonadi, Solo.
“Pasar Legi, pak“, pemuda itu menjawab.
“20 ribu aja mas. Kan lewat Gemblegan dulu. Ayo saya anter. Udah murah ni…!“tukang becak itu membujuk sambil menipu.
Tak perlulah ke Gemblegan dulu dari terminal Tirtonadi kalau mau ke Pasar Legi. Satu lagi bentuk kecurangan.
Mengulur waktu masuk kerja, bagi yang karyawan, dan tentunya sering curi start pulang kerja. Lantas tiap tahun menuntut kenaikan gaji. Sungguh ini adalah bentuk kecurangan komunal, berjamaah. Pedagang pun tidak luput dari praktik ini. “Wah, gak boleh mas. Kulakannya aja gak dapet segitu! Bisa rugi saya!“. Begitu seruan yang sering kita dengar dalam sebuah fragmen tawar menawar antara calon pembeli dengan sang empunya dagangan. Menipukah ini? Curangkah ini?
***
“Ke mana Pak?” Tanya seorang penjual jasa taksi padaku.
“Deket Bang, cuman cimone situ aja“,jawabku sedikit meramahkan diri. Karena aku tahu, orang yang menawarkan jasa itu tak lebih adalah preman bandara.
“100 ribu aja. Udah murah ni“, orang itu menawarkan harga taksi tembak atau borongan yang bagiku adalah harga banting. Perasaan calon penumpang yang dibanting habis-habisan.
“Gocap!” aku hanya menjawab singkat.
“Wah, gak boleh Pak. Ijin masuk aja 20 ribu. Itu kalo “Taksi Biru” gak ada yang mau, semuanya lewat Cengkareng, tambah tol bisa nyampe 150 ribu. 100 ribu uda murah ni!” calo itu masih berharap aku iba padanya. Namun sayang, aku sudah mengenal medan. Jarak 8 km tidak pantas dihargai 100 ribu naik taksi.
Akhirnya akupun dapet “Taksi Biru” yang tanpa calo, tanpa menipu, dan service lebih santun. Tidak lebih dari 50 ribu. Jasa parkir bandara hanya 10 ribu. Sungguh, calo di bandara tadi sudah melakukan 6 kebodohan. Kebodohan pertama, tidak mau menggunakan argo meter. Kedua, memalsukan trayek taksi lain dengan menipu calon penumpang. Ketiga, memalsukan ongkos taksi lain. Keempat, memalsukan ongkos jasa parker di bandara. Kelima, berniat menipu calon penumpang. Dan keenam, dia tidak sadar dia sudah menjadi golongan Al-Muthaffifin. Sungguh sebuah penipuan besar-besaran.
***
Dalam kancah politik, partai-partai mengumbar janji. Saya akan….. Saya akan…. Saya akan….. Sementara bangsa dan rakyat negeri mayoritas muslim ini lebih membutuhkan kerja nyata, riil. Kita semua lebih membutuhkan bukti, bukan janji. Janji-janji partai politik gadungan itu memang diniatkan hanya untuk memanen jutaan dana kampanye. Dan…menipu para calon pemilihnya. Tidak lebih. Dan sayangnya, belum banyak partai politik yang benar-benar tulus melayani negeri. Kau yang berjanji…kau yang mengingkari… kau yang mulai…kau yang mengakhiri… .
Semua contoh kasus di atas berawal dari rasa tidak puas dengan apa yang ada padanya. Apa yang sudah Allah karuniakan padanya. Fisik yang sehat, oksigen gratis setiap hari, cukup makan, tidaklah cukup membuka mata hati orang-orang bermental Muthaffifin. “Masih kurang ni….!” Begitulah mindset mereka, Al-Muthaffifin.
***
Akibat salah asuhan
Tak perlulah kita semua memicingkan mata melihat sadisnya watak manusia muthaffifin di atas. Tak perlulah kita khawatir apakah diri kita bagian dari mereka. Cukuplah Allah dan Rasulnya menjadi panutan setiap helaan nafas. Menjadi titian setiap langkah. Menjadi Suri untuk diteladani. Cukuplah Al-Quran dan As-Sunnah menuntun kita menjadi pribadi yang sholeh dan Ihsan. Sholeh karena perangai kita tidak untuk menyakiti orang lain. Ihsan karena yakin setiap perbuatan diawasi oleh Sang Pemilik alam, Allahu Akbar. Wal ihsan an ta’budallaha ka annaka taroohu, fa in lam takun taroohu fa innahu yarooka.
Sebagai muslim, setiap kita bertanggung jawab mendidik generasi militan dalam menjalankan ajaran suci Islam. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[QS. an-Nisa' (4) : 9].
Mendidik kejujuran dan menjauhi karakter muthaffifin termasuk dalam kepribadian muslim sejati yang digariskan. Orang-orang itu tak mungkin mau menipu kalau tidak khawatir tidak bisa makan. Orang-orang itu tak mungkin menipu kalau mereka yakin dengan janji Allah dengan setiap perkataan yang benar.
Lantas bagaimanakah dengan calo di atas? Perlu kita kasihan pada mereka. Kasihan karena mereka masih mau menipu. Kasihan karena mereka tidak diajarkan nilai-nilai kejujuran. Kasihan karena mereka belum saatnya mengenal kebenaran hakiki. Kasihan karena keluarga mereka makan dari yang tidak halal, hasil menipu. Kasihan karena mereka adalah penganut paham yang haram aja susah apalagi dapetin yang halal. Mungkin inikah masa yang digambarkan oleh Rasulullah SAW itu?
Wahai sadaraku, persiapkan generasi muslim yang militan. Berkarakter kuat. Berkepribadian memikat. Tidak mudah tertipu dengan tipu muslihat. Perkenalkanlah pada wajah-wajah surga itu kebenaran hakiki. Kenalkanlah pada anak-anak kita kejujuran. Kenalkanlah akan janji Allah akan ketaqwaan. Janganlah meninggalkan generasi lemah akibat kesalahan kita mengasuh mereka. Mungkin, tidak mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam juga termasuk dengan tindakan curang, muthaffif.
Lantas, tertarikkah kita menjadi Al-Muthaffif?
Kecelakaan besarlah bagi Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang). Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. [Q.S. Al-Muthaffifin :1-4]
Masa berputar dan waktu berlalu. Kita pun beranjak dewasa dengan perkembangan psikologi yang mengiringi. Perkembangan psikologi tidaklah sama pada setiap orang. Ada yang cepat menjadi dewasa. Bahkan tidak sedikit yang telat menjadi dewasa. Banyak kita temui orang tua yang kekanak-kanakan, kitakah itu?
Perkembangan psikologi sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang sekitar. Dengan bertambahnya usia, akal pun semakin berkembang. Akal yang berkembang itu menjadi sebuah dilemma, bisa bermanfaat atau sebaliknya. Membinasakan.
Kembali ke persoalan curang. Ketika anak-anak, ketika berontak kita hanya bisa diam membisu menerima keputusan sang ibu. Lebih dari itu, paling-paling nangis atau ngambek. Saat dewasa, source yang dimiliki bertambah, akal yang berkembang dan fisik yang semakin kuat. Implikasi dari perkembangan kedua hal tersebut bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari.
Sebuah SMA di Malang nekat memalsukan nilai rapor muridnya yang hendak mendaftar program penelusuran bakat dan minat untuk bisa kuliah di Universitas Brawijaya, universitas kenamaan di kota Bentoel.
“Mau kemana mas?“, tanya seorang tukang becak pada sesosok pemuda yang tampak kebingungan di terminal tirtonadi, Solo.
“Pasar Legi, pak“, pemuda itu menjawab.
“20 ribu aja mas. Kan lewat Gemblegan dulu. Ayo saya anter. Udah murah ni…!“tukang becak itu membujuk sambil menipu.
Tak perlulah ke Gemblegan dulu dari terminal Tirtonadi kalau mau ke Pasar Legi. Satu lagi bentuk kecurangan.
Mengulur waktu masuk kerja, bagi yang karyawan, dan tentunya sering curi start pulang kerja. Lantas tiap tahun menuntut kenaikan gaji. Sungguh ini adalah bentuk kecurangan komunal, berjamaah. Pedagang pun tidak luput dari praktik ini. “Wah, gak boleh mas. Kulakannya aja gak dapet segitu! Bisa rugi saya!“. Begitu seruan yang sering kita dengar dalam sebuah fragmen tawar menawar antara calon pembeli dengan sang empunya dagangan. Menipukah ini? Curangkah ini?
***
“Ke mana Pak?” Tanya seorang penjual jasa taksi padaku.
“Deket Bang, cuman cimone situ aja“,jawabku sedikit meramahkan diri. Karena aku tahu, orang yang menawarkan jasa itu tak lebih adalah preman bandara.
“100 ribu aja. Udah murah ni“, orang itu menawarkan harga taksi tembak atau borongan yang bagiku adalah harga banting. Perasaan calon penumpang yang dibanting habis-habisan.
“Gocap!” aku hanya menjawab singkat.
“Wah, gak boleh Pak. Ijin masuk aja 20 ribu. Itu kalo “Taksi Biru” gak ada yang mau, semuanya lewat Cengkareng, tambah tol bisa nyampe 150 ribu. 100 ribu uda murah ni!” calo itu masih berharap aku iba padanya. Namun sayang, aku sudah mengenal medan. Jarak 8 km tidak pantas dihargai 100 ribu naik taksi.
Akhirnya akupun dapet “Taksi Biru” yang tanpa calo, tanpa menipu, dan service lebih santun. Tidak lebih dari 50 ribu. Jasa parkir bandara hanya 10 ribu. Sungguh, calo di bandara tadi sudah melakukan 6 kebodohan. Kebodohan pertama, tidak mau menggunakan argo meter. Kedua, memalsukan trayek taksi lain dengan menipu calon penumpang. Ketiga, memalsukan ongkos taksi lain. Keempat, memalsukan ongkos jasa parker di bandara. Kelima, berniat menipu calon penumpang. Dan keenam, dia tidak sadar dia sudah menjadi golongan Al-Muthaffifin. Sungguh sebuah penipuan besar-besaran.
***
Dalam kancah politik, partai-partai mengumbar janji. Saya akan….. Saya akan…. Saya akan….. Sementara bangsa dan rakyat negeri mayoritas muslim ini lebih membutuhkan kerja nyata, riil. Kita semua lebih membutuhkan bukti, bukan janji. Janji-janji partai politik gadungan itu memang diniatkan hanya untuk memanen jutaan dana kampanye. Dan…menipu para calon pemilihnya. Tidak lebih. Dan sayangnya, belum banyak partai politik yang benar-benar tulus melayani negeri. Kau yang berjanji…kau yang mengingkari… kau yang mulai…kau yang mengakhiri… .
Semua contoh kasus di atas berawal dari rasa tidak puas dengan apa yang ada padanya. Apa yang sudah Allah karuniakan padanya. Fisik yang sehat, oksigen gratis setiap hari, cukup makan, tidaklah cukup membuka mata hati orang-orang bermental Muthaffifin. “Masih kurang ni….!” Begitulah mindset mereka, Al-Muthaffifin.
***
Akibat salah asuhan
Tak perlulah kita semua memicingkan mata melihat sadisnya watak manusia muthaffifin di atas. Tak perlulah kita khawatir apakah diri kita bagian dari mereka. Cukuplah Allah dan Rasulnya menjadi panutan setiap helaan nafas. Menjadi titian setiap langkah. Menjadi Suri untuk diteladani. Cukuplah Al-Quran dan As-Sunnah menuntun kita menjadi pribadi yang sholeh dan Ihsan. Sholeh karena perangai kita tidak untuk menyakiti orang lain. Ihsan karena yakin setiap perbuatan diawasi oleh Sang Pemilik alam, Allahu Akbar. Wal ihsan an ta’budallaha ka annaka taroohu, fa in lam takun taroohu fa innahu yarooka.
Sebagai muslim, setiap kita bertanggung jawab mendidik generasi militan dalam menjalankan ajaran suci Islam. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[QS. an-Nisa' (4) : 9].
Mendidik kejujuran dan menjauhi karakter muthaffifin termasuk dalam kepribadian muslim sejati yang digariskan. Orang-orang itu tak mungkin mau menipu kalau tidak khawatir tidak bisa makan. Orang-orang itu tak mungkin menipu kalau mereka yakin dengan janji Allah dengan setiap perkataan yang benar.
Lantas bagaimanakah dengan calo di atas? Perlu kita kasihan pada mereka. Kasihan karena mereka masih mau menipu. Kasihan karena mereka tidak diajarkan nilai-nilai kejujuran. Kasihan karena mereka belum saatnya mengenal kebenaran hakiki. Kasihan karena keluarga mereka makan dari yang tidak halal, hasil menipu. Kasihan karena mereka adalah penganut paham yang haram aja susah apalagi dapetin yang halal. Mungkin inikah masa yang digambarkan oleh Rasulullah SAW itu?
Wahai sadaraku, persiapkan generasi muslim yang militan. Berkarakter kuat. Berkepribadian memikat. Tidak mudah tertipu dengan tipu muslihat. Perkenalkanlah pada wajah-wajah surga itu kebenaran hakiki. Kenalkanlah pada anak-anak kita kejujuran. Kenalkanlah akan janji Allah akan ketaqwaan. Janganlah meninggalkan generasi lemah akibat kesalahan kita mengasuh mereka. Mungkin, tidak mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam juga termasuk dengan tindakan curang, muthaffif.
Lantas, tertarikkah kita menjadi Al-Muthaffif?
Kecelakaan besarlah bagi Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang). Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. [Q.S. Al-Muthaffifin :1-4]
Laa Ikraha, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui,
وَ اللهُ اَعْلُمُ
Bagikan
Audisi Al-Muthaffifin
4/
5
Oleh
Fatima
