Banyak orang yang keliru memahami
makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw,
peninggalan-peninggalannya saw, ahlulbaitnya saw dan para pewarisnya
yakni para ulama, para kyai dan para wali. Karena hakekat yang belum
mereka pahami, mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap
mereka yang bertabarruk pada Nabi saw atau ulama.
Sebagaimana firman Allah swt :
“Berkatalah Nabi mereka pada mereka, bahwa bukti bahwa ia diberi
kekuasaan adalah peti yang didalamnya terdapat ketenangan dari tuhan
kalian, dan bekas bekas peninggalan keluarga Musa (as) dan Keluarga
Harun (as) yang dibawakan oleh Malaikat, sungguh pada hal itu terdapat
tanda tanda jika kalian benar benar beriman” (QS Al Baqarah 248).
Mengenai azimat (Ruqyyat) dengan huruf
arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah
swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa
disebutkan pd kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi
Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin
mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah
bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat Alqur’an.
Mengenai benda-benda keramat, maka ini
perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu
tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan
Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia
seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan :
· Para sahabat seakan akan hampir saling
bunuh saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw
(Shahih Bukhari Hadits no. 186),
· Allah swt menjelaskan bahwa ketika
Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian
Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam
firman Nya SWT : “(berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN
DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH
DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA
KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as)
MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96). Ini
merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat
menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya
mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya
menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : PERGILAH KALIAN DENGAN
BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI
BUTANYA” . untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah
ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yang
pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yang shalih. kita akan
lihat dalil dalil lainnya.
· Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti
Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila
ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air
itu diminumkan pada yang sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
· Rasul saw sendiri menjadikan air liur
orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau :
“Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari
kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih
Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian
dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan
penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat
menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini
menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan
tanah bumi, menunjukkan bahwa pd hakikatnya seluruh ala mini membawa
keberkahan dari Allah swt.
· seorang sahabat meminta Rasul saw
shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat
beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang
itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”.
Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul
saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)
· Nabi Musa as ketika akan wafat ia
meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa Musa
as ingin dimakamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (shahih
Bukhari hadits no.1274).
· Allah memuji Nabi saw dan Umar bin
Khattab ra yang menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi
tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan
Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman
Nya : “Dan mereka menjadikan tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat
shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan
tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan
tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
· Diriwayatkan ketika Rasul saw barusaja
mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu
datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai
oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta,
maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan
keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku
nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat
pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan
tubuh Nabi Muhammad saw.
· Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia
telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yang merobek
perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan
mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar
ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam
hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah
Makam Rasul saw dan Abubakar ra”, maka ketika Ummulmukminin telah
mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih
kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan
disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan
Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yang sangat Agung,
hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia
berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di
pembaringan itu”
· Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang
saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu
memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan
berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada
akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah
dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits
no.1184, 4187).
· Salim bin Abdullah ra melakukan shalat
sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa
ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah
saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun
melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para
sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh
Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka
mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan
mereka terhadap sang Nabi saw.
· Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada
Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat
ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat
ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
· Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku
diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai
Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan
mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air
dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan
kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
· Riwayat lain ketika dikatakan pada
Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau
aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku
dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168).
demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung
dari dunia dan segala isinya.
· Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari
ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan
mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak
mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya
yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah
dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada
Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503
dengan riwayat yang banyak).
· Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra
dalam detik detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah
botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw,
maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan
bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925)
Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman
sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu
Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh
Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw
Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena disakratulmaut bukan ingat Allah malah ingat kuburan Nabi saw
Tentunya para sahabat sudah dikatakan
musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan Nabi Muhammad saw dan
menganggapnya tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip
dengan kaum nasrani yang berebutan air pastor!
Nah.. kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan
kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan
Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini
ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik.
Sebagimana sabda Nabi saw : “Kebekahan adalah pada urang orang tua dan ulama kalian” (Shahih Ibn Hibban hadits no.559)
Dikatakan oleh Al hafidh Al Imam
Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy menanggapi hadits yang diriwayatkan
dalam shahih muslim bahw Rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu
meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur
tubuh yang dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dengan nafas dan
air liur yang telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir
dzikir yang ditulis dibejana (untuk obat). (Al Jami’usshaghiir Imam
Assuyuthiy Juz 1 hal 84 hadits no.104)
Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh
salah seorang Profesor Jepang, yaitu Prof. Masaru Emoto, bahwa air itu
berubah wujud bentuknya dengan hanya diucapkan padanya kalimat kalimat
tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan ucapan
indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila
diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi
buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan
indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia
menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci
maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya,
kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yang
didekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.
Ketika salah seorang isteri sang Nabi,
terlepas ucapannya menghina seorang wanita, dengan mengatakan dia itu
pendek, maka berkata Rasul, ucapanmu itu, umpatanmu yang kau tidak
sadari itu, jika ditaruhkan dilautan, akan berubah lautan itu warnanya,
berubah menjadi air yang busuk dan menjijikkan, satu ucapan umpatan
keturunan Adam, kita berkata; barang kali hal itu hanyalah tahdzir,
hanya peringatan, ternyata benar, umpatan dan cacian merubah
benda-benda, menjadi lebih buruk dan lebih busuk dan menjijikkan,
menunjukkan perbuatan keturunan Adam sebagai khalifah berpengaruh di
alam semesta.
Aisyah RA berkata:”Aku pernah berkata
kepada Rosululloh, ‘Cukuplah bagimu dari Shofiah itu (salah seorang
isteri beliau) begini dan begitu (kekurangannya), -sebagian perawi
hadits berkata yakni pendek orangnya- maka beliau bersabda, “Sungguh
engkau telah mengucapkan satu kalimat yang seandainya dicampur dengan
air lautan niscaya akan mencampurinya” (Yakni membuat air laut tersebut
berubah rasanya atau warnanya karena buruknya dan busuknya ucapan
tersebut)” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Keajaiban alamiah yang baru diketahui
masa kini, sedangkan Rasul saw dan para sahabat telah memahaminya,
mereka bertabarruk dengan air yang menyentuh tubuh Rasul saw, mereka
bertabarruk dengan air doa yang didoakan oleh Rasul saw, maka hanya
mereka mereka kaum muslimin yang rendah pemahamannya dalam syariah
inilah yang masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara
ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yang jumud dan terbelakang.
Bagikan
II.9. TABARRUK (mengambil keberkahan dari bekas atau tubuh shalihin)
4/
5
Oleh
Fatima

