Setelah saya baca ternyata setumpuk artikel tersebut hanya bermasalah dalam 3 hal kebodohan besar :
1. Kejahilan (Ketidak fahaman) dalam pengingkaran terhadap keramat para wali dan shalihin
2. Kejahilan dalam pengingkaran terhadap mukasyafah (para wali dan Nabi mengetahui hal yg gaib)
3. Kejahilan dalam pengingkaran ucapan ucapan para shalihin dan ulama yang mengandung makna luas, namun dipersempit dan diselewengkan dengan kebodohan dan kesengajaan untuk memfitnah para wali Allah swt.
2. Kejahilan dalam pengingkaran terhadap mukasyafah (para wali dan Nabi mengetahui hal yg gaib)
3. Kejahilan dalam pengingkaran ucapan ucapan para shalihin dan ulama yang mengandung makna luas, namun dipersempit dan diselewengkan dengan kebodohan dan kesengajaan untuk memfitnah para wali Allah swt.
Ikutilah riwayat riwayat shahih dibawah ini dengan seksama :
FIRMAN ALLAH SWT MENJELASKAN KERAMAT PARA WALI
Firman Allah swt menceritakan kejadian
Sulaiman as : “Maka berkatalah Sulaiman (as) : siapakah diantara kalian
yang dapat membawakan Singgasananya (Singgasana Ratu Balqis) kehadapanku
sebelum mereka datang menyerahkan diri?, maka berkatalah seorang Ifrit
dari golongan Jin : Aku akan membawakannya padamu sebelum kau berdiri
dari kursimu!, sungguh aku memiliki kekuatan dan dapat dipercaya!, Maka
berkatalah seseorang yang memiliki ilmu dari kitabullah : Aku akan
membawakannya padamu (singgasana Ratu Balqis) sebelum engkau mengedipkan
matamu, maka ketika Sulaiman (as) melihat singgasana itu dalam sekejap
sudah tegak dihadapannya…” (QS Annaml 39-41)
Disini jika kita ringkaskan saja, maka
tidak mustahil seorang wali Allah berkata aku mampu berbuat ini dan itu,
aku mampu menghidupkan yang mati, aku mampu memindahkan singgasana itu
sebelum kau kedipkan matamu!, atau ucapan – ucapan yang didasari
kekuatan ilahiah, dan yang mengingkari hal ini maka Allah swt telah
menyiapkan jawabannya sebelum mereka bertanya dan mengingkari,
sebagaimana firman Allah swt diatas, membuktikan bahwa ucapan itu bukan
ucapan sombong, tapi justru merupakan tanda kebesaran Allah swt.
Firman Allah swt diatas ini jelas bukan
tercantum pada Taurat, Zabur, Injil atau shuhuf para Nabi terdahulu,
padahal kejadiannya adalah pada ummat terdahulu, namun tercantum pada
Alqur’an, agar Ummat Muhammad saw memahami bahwa jika muncul hal hal
seperti ini pada masa mereka maka hal itu bukan hal yang aneh, namun hal
biasa yang sudah terjadi pada ummat ummat terdahulu, justru yang
mengingkari hal seperti ini kufur hukumnya karena ia mengingkari
Alqur’an,
Firman Allah swt menceritakan kejadian Musa dan Khidir as dalam surat Al Kahfi:
Maka ia (Musa as) menemukan hamba dari
hamba hamba hamba Kami yang kami beri padanya Rahmat dari sisi kami dan
kami mengajarinya dengan ilmu dari sisi kami (Ladunniy) (65),
Maka berkata padanya Musa : Bolehkah aku
mengikutimu agar kau ajarkan dari kemuliaan kemuliaan yang diajarkan
padamu? (66), ia (Khidir as) menjawab : engkau tak akan mampu bersabar
bersamaku (67), dan bagaimana pula kau bisa bersabar pada apa – apa yang
kau belum dikabarkan? (68), (Musa menjawab) engkau akan menyaksikan
Insya Allah aku merupakan orang yang bersabar dan aku tak akan
mengingkari urusanmu (69), berkatalah ia (khidir as) : Jika kau
mengikutiku janganlah kau bertanya apapun sampai aku sendiri yang
mengabarkannya padamu (70), maka mereka pun berlalu, hingga menumpang
disebuah kapal dan ia (khidir as) menenggelamkannya, berkatalah (musa
as) apakah kau merusak dan menenggelamkannya untuk mencelakakan
pemiliknya, sungguh kau telah berbuat kejahatan! (71),
Maka berkatalah ia (Khidir as) bukankah
telah kukatakan bahwa engkau sungguh tak akan bersabar bersamaku? (72),
maka ia (Musa as) berkata : Jangan kau perdulikan kelupaanku, dan jangan
menyulitkanmu persahabatanku dengan mu (maafkan apa yg kuperbuat) (73),
maka mereka berlalu hingga menjumpai seorang anak, lalu ia (Khidir as)
membunuhnya, maka Musa berkata: Apakah kau membunuh manusia suci tanpa
sebab yang benar..??, sungguh kau telah berbuat kejahatan!! (74),
Maka berkatalah ia (Khidir as) bukankah telah kukatakan bahwa engkau sungguh tak akan bersabar bersamaku? (75),
(Musa as berkata) Jika aku bertanya lagi
tentang sesuatu maka jangan kau jalan bersamaku, karena aku telah
berulang ulang berbuat kesalahan (76), maka mereka berlalu hingga mereka
mengunjungi sebuah perkampungan, dan mereka minta makan dan penduduk
tak mau menjamu mereka, maka keduanya menemui sebuah tembok yang hampir
roboh, maka ia (Khidir as) menegakkannya, maka ia berkata (Musa as) jika
kau mau bisa saja kau membayar tukang untuk melakukannya (77),
Berkatalah ia (khidir as) Inilah
perpisahanku denganmu, akan kukabarkan padamu makna makna yang kau tak
dapat bersabar atasnya (78),
Mengenai kapal itu, adalah milik orang
miskin yang bekerja di lautan dan aku sengaja merusaknya, karena
dihadapan mereka ada penguasa yang akan merampas semua kapal – kapal,
(aku menenggelamkannya agar kapal mereka selamat dan dapat diperbaiki
dan barang – barang dan hartanya selamat) (79),
Mengenai anak yang kubunuh maka kedua
ayah ibunya adalah orang mukmin, dan kami tak ingin ia hidup menjadi
penjahat dan kufur (Sebagaimana riwayat Shahih Muslim bahwa anak itu
akan tumbuh menjadi kafir dan kami menyayangi kedua orang tuanya dan tak
mau mengecewakan keduanya) (80), maka Allah ingin menggantikan untuk
ayah ibunya yang lebih baik bagi mereka dan suci (81),
Mengenai Tembok maka milik dua anak yatim
di kota dan dibawahnya terdapat harta karun milik kedua ayah ibunya dan
keduanya orang yg shalih, dan Allah menginginkan agar mereka dewasa dan
mengeluarkan harta itu untuk mereka kelak, inilah rahmat dan kasih
sayang pada mereka dari Tuhanmu, dan aku tidak memperbuat itu dari
keinginan pribadiku, itulah makna dari apa – apa yang kau tak bisa
bersabar darinya (82). (QS. Al Kahfi : 65-82).
Jelaslah sudah bahwa Allah swt
menguasakan kepada hamba – hambaNya beberapa hal yang tidak masuk akal
dan bertentangan dengan syariah, hal ini dimunculkan oleh Allah swt
bahwa itu bukan berupa kegilaan, tapi justru kehendak Allah swt dan
mengandung hikmah yang mendalam, dimana Allah swt mengajari Musa as
bahwa tak bisa logika menjadi acuan atas segala hal, banyak hal gaib
yang kelihatannya adalah kemungkaran namun justru merupakan Samudra
kelembutan Allah swt.
قالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ
إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى
أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ
وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Sabda Rasulullah saw bahwa Allah swt
berfirman : “Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka Ku umumkan perang
padanya, tiadalah hamba – hambaKu mendekat pada-Ku dengan hal – hal yang
telah kuwajibkan, dan hamba – hambaKu tak henti hentinya pula mendekat
pada-Ku dengan hal – hal yang sunnah hingga Aku mencintainya, Jika Aku
mencintainya maka aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk
mendengar, aku menjadi pandangannya yang ia gunakan untuk melihat, aku
menjadi tangannya yang ia gunakan untuk melawan, aku menjadi kakinya
yang ia gunakan untuk melangkah, Jika ia meminta pada-Ku niscaya kuberi
apa yang ia minta, dan jika ia mohon perlindungan pada-Ku niscaya kuberi
padanya perlindungan” (Shahih Bukhari Bab Arriqaaq/Tawadhu)
Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al
Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarh Shahih Bukhari menjelaskan
makna hadits ini dalam 6 penafsiran, secara ringkasnya saja bahwa panca
indera mereka telah suci dari hal – hal dosa karena mereka
menyucikannya, dan mereka tidak mau berucap terkecuali kalimat – kalimat
dzikir atau ucapan mulia, tak mau mendengar terkecuali yang mulia pula,
demikian seluruh panca inderanya, dan Allah swt membimbing panca indera
mereka untuk selalu mulia. (Fathul Baari Bisyarh Shahih Bukhari Bab
Arriqaaq/Tawadhu)
Maka yang terpenting dalam hadits mulia
ini adalah perkataan : “Jika ia meminta pada-Ku niscaya kuberi
permintaan-Nya”, ucapan ini jelas – jelas menjawab seluruh sangkalan
mereka,
Bahwa bisa saja mereka berdoa pada Allah
swt untuk menghidupkan yang mati, pindah ke tempat lain, mendengar atau
melihat perasaan orang lain dan lain sebagainya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Tajuddin
Assubkiy bahwa diantara bentuk karamat adalah sepuluh macam, dan
sungguh lebih banyak dari itu, yang pertama adalah Menghidupkan yang
mati, kedua adalah berbicara dengan yang mati, yang ketiga adalah
terbelahnya lautan dan keringnya lautan, keempat adalah berubahnya
bentuk, kelima adalah berjalan diatas air, keenam adalah ucapan hewan
dan benda, ketujuh adalah taatnya hewan, kedelapan adalah digulungnya
waktu, kesembilan terdiamnya lidah atau terucapkannya, kesepuluh adalah
terkeluarkannya harta karun, demikian dijelaskan dengan panjang lebar
oleh Imam Tajuddin Assubkiy Dalam kitabnya Thabaqatussyafi’i Al Kubra
Juz II hal 338 cetakan Darul Ihya)
Dan tentunya kejadian Tsunami di Aceh
telah pula memperjelas ini, bahwa Air Dahsyat setinggi 30 meter dengan
kecepatan 300km/jam dan kekuatan ratusan juta ton, terbelah di makam –
makam shalihin dan masjid, menunjukkan kemuliaan dan keramat para Wali
Allah yg dimuliakan Allah swt walau mereka telah wafat, mereka tetap
Benteng Allah swt dimuka Bumi sebagaimana firman Nya : “Sungguh Bumi
diwariskan Allah pada hamba – hambaNya yg shalih” (QS. Al Anbiya : 105).
Rasul saw bersabda : “akan datang
kelak…., atau akan muncul kelak setelah aku wafat…., atau kelak di hari
kiamat….”, hadits – hadits shahih semacam ini ratusan banyaknya,
merupakan tanda – tanda hari kiamat, keadaan kelak di alam barzakh,
keadaan di hari kiamat, kesemuanya dikabarkan oleh Rasul saw dengan
gamblangnya menunjukkan bahwa beliau saw mengetahui apa yang akan
terjadi, bahkan mengetahui seseorang itu akan mati dalam kebaikan atau
dalam kekufuran, sebagaimana riwayat shahih Muslim yang menjelaskan
bahwa seorang pejuang yang berjuang dengan giatnya namun Rasul saw
berkata : “Dia ahli neraka!”, para sahabat menyangkalnya karena orang
itu berjihad dengan semangat dan kesungguhan, namun terbuktilah pada
akhirnya ia membunuh diri dengan memotong urat nadinya. (bunuh diri).
KERAMAT PARA SAHABAT
Ketika Khalifah Umar bin Khattab ra
sedang berkhutbah jumat, tiba – tiba ditengah khutbahnya ia berseru
dengan kerasnya : Wahai Sariah bin Hashiin.., keatas gunung.. keatas
gunung..!, maka kagetlah para sahabat lainnya, kenapa Khalifah berkata
demikian?, apa maksudnya?, sebulan kemudian kembalilah Sariah bin
Hashiin dari peperangan bersama pasukan sahabat lainnya, mereka
bercerita saat mereka terdesak dalam peperangan mereka mendengar suara
Umar bin Khattab ra yang tak terlihat wujudnya, teriakan itu adalah :
Wahai Sariah bin Hashiin.., keatas gunung.. keatas gunung..!, maka kami
naik keatas gunung dan berkat itu kami memenangkan peperangan (Durrul
muntatsirah fil ahaditsil Masyhurah oleh Al Hafidh Al Imam Jalaluddin
Abdurrahman Assuyuthi Juz 1 hal 22, Al Ishabah Juz 3 hal 6, Tarikh
Attabari Juz 2 hal 553).
Menunjukkkan bahwa Khalifah Umar ra
diberi kemuliaan oleh Allah swt mengawasi hal hal yg terjadi di wilayah
lainnya, ia mengomandoi mereka dan lebih tahu mana yg terbaik bagi
mereka daripada mereka yg berhadapan langsung dg musuh.
KERAMAT PARA SAHABAT RIWAYAT SHAHIH BUKHARI
Riwayat lain Ketika dua orang sahabat di
malam yang gelap keluar dari menghadap Rasul saw, maka terlihatlah dua
cahaya menerangi mereka, cahaya itu terus mengikuti mereka hingga mereka
berpisah maka dua cahaya itupun berpisah, sampai mereka masuk
kerumahnya masing – masing (Shahih Bukhari Bab Manaqib)
Riwayat lain Ketika salah seorang sahabat
membaca surat Alkahfi disuatu malam maka ia melihat keledainya
melarikan diri, maka ketika ia selesai shalat ia melihat kabut yg
menyelimuti sekitar, maka keesokan harinya ia menceritakannya pada Rasul
saw maka Rasul saw berkata : Bacalah terus wahai fulan, sungguh itu
adalah ketenangan yg turun sebab Alqur’an (Shahih Bukhari Bab Alamat
Nubuwwah fil islam)
Riwayat lain ketika Abubakar shiddiq
diberkahi makanan untuk tamu – tamu dirumahnya, hingga tamu – tamunya
menyaksikan bahwa setiap mereka memakan makanan itu namun makanan itu
tidak berkurang (Shahih Bukhari Bab Samar Ma’addhaif)
Riwayat lainnya Rasul saw bersabda :
“Wahai Umar, tiadalah syaitan berpapasan denganmu disuatu jalan kecuali
ia akan menghindar mencari jalan yang bukan jalanmu” (Shahih Bukhari Bab
Manaqib Umar bin Khattab ra), berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy
bahwa dalam hadits ini terkandung makna bahwa Ma’shum adalah hal yang
wajib bagi para Nabi, namun merupakan hal yang bisa saja terjadi (tidak
mustahil) bagi selain Nabi, dan bukan hanya Umar ra yg mencapai derajat
ini namun banyak yg lainnya (Fathul Baari Bisyarh Shahih Bukhari Bab
Manaqib Umar)
Riwayat lainnya sabda Rasulullah saw ;
Tiadalah bayi bercakap cakap terkecuali tiga, Isa bin Maryam (as), dan
di Bani Israil seorang lelaki bernama Jureij, ketika sedang shalat
datanglah ibunya memanggilnya, seraya berkata dalam hatinya : Apakah aku
menjawabnya atau meneruskan shalat?, maka Ibundanya marah dan berdoa :
Wahai Allah jangan kau matikan ia hingga kau perlihatkan padanya wajah
pelacur, maka suatu ketika Jureij di tempat khalwatnya dan datanglah
padanya seorang wanita mengajaknya berzina, maka ia menolak, lalu
pelacur itu mendatangi seorang penggembala dan kemudian berzina
dengannya, maka wanita itupun hamil dan melahirkan bayi lelaki, maka
wanita itu berkata ini adalah dari perbuatan Jureij..!, maka penduduk
marah dan menghancurkan rumah ibadahnya, menyeretnya dan mencacinya,
maka ia berwudhu dan shalat, dan mendatangi bayi itu dan berkata : Siapa
ayahmu..?!, maka Bayi itu berkata : Ayahku adalah Penggembala, maka
mereka berkata : Kami akan membangun rumah ibadahmu dari emas..??, maka
ia berkata, tidak.., cukup dari tanah!.
Yang ketiga adalah ketika seorang wanita
menyusui anaknya dari Bani Israil, maka lewatlah seorang pria berwibawa
dan penguasa, maka ibu itu berkata : Wahai Allah jadikan anakku
sepertinya!, maka anak itu melepaskan susu ibunya dan menjawab : Wahai
Allah jangan jadikan aku sepertinya!, lalu ia kembali menyusu, dan
berkata Abu Hurairah : seakan akan aku melihat pada Nabi saw yang
menghisap jarinya (mempercontohkan hikayat), lalu lewatlah seorang
Budak, dan ibunya pun berkata : Wahai Allah jangan jadikan anakku
sepertinya!, maka Bayinya melepaskan susunya dan berkata : Wahai Allah
jadikanlah aku sepertinya!, (berkata ibunya) mengapa begitu?, bayinya
berkata : Orang pertama adalah penguasa bengis, dan Budak itu adalah
dituduh pencuri, pezina, dan ia tak melakukannya” (Shahih Bukhari Bab
Ahaditsul Anbiya).
Riwayat hadits ibu yang menyusui bayi
diatas menunjukkan bolehnya Allah memberikan keramat pada wali sejak ia
masih bayi, sudah dapat tahu takdir orang, tahu siapa orang itu
sebenarnya, dan mengetahui hal yang ghaib, maka jika ada habaib atau
ulama yang dikatakan sudah keramat dan jadi wali Allah sejak bayinya,
semacam Imam Abubakar bin Salim Fakhrul wujud dan lainnya, maka telah
jelas diriwayatkan dalam shahih Bukhari mengenai akan dalilnya.
Dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy bahwa bukan hanya 3 ini saja
dan hadits ini merupakan penjelasan bahwa hal itu ada, dan tidak
menutup kemungkinan hal itu terjadi pd selain 3 bayi tsb
Riwayat lainnya bahwa Khubaib ra ketika
ditangkap oleh Bani Harits , (dalam riwayat yg panjang), bahwa Putri
dari Al Harits berkata : Tak pernah kulihat tawanan pun yang lebih baik
dari Khubaib (ra), sungguh telah kusaksikan ia makan buah anggur
sedangkan di Makkah saat itu tak ada sama sekali buah buahan, dan ia
didalam penjara Besi, dan itu adalah Rizki yang diberikan oleh Allah swt
(Shahih Bukhari Bab Jihad wassayr)
Riwayat lainnya bahwa seorang dari
penduduk Kuufah mengadukan kepada Khalifah Umar ra tentang Sa’ad bin Abi
Waqqash ra, maka diutuslah bersamanya seorang pengintai yang bertanya
tentang Sa’ad di Kufah, maka ia berkeliling di masjid Kufah dan tak ada
yang menyaksikan kecuali kebaikan Sa’ad ra, maka berkatalah seorang
lelaki yang dikenal dengan nama Aba Sa’dah : Jika kau bertanya pada kami
maka sungguh Sa’ad (ra) tidak membagi dengan adil, dan banyak lagi
fitnahnya pada Sa’ad ra, maka berkatalah Sa’ad (ra) “Wahai Allah jika ia
dusta maka panjangkan usianya, dan panjangkan kemiskinannya, dan
munculkan atasnya fitnah fitnah”.
Maka berkata Ibn Umair ra kulihat ia tua
renta hingga kedua alisnya sudah hampir menutup kedua matanya karena
sangat tua, dan sangat miskin, dan mengejar – ngejar para wanita di
jalanan seraya memegang – megangnya, jika ditanya padanya : Kenapa kau
berbuat ini??, ia menjawab : Aku adalah si tua renta yg terkena fitnah
karena doa Sa’ad (ra). ( Shahih Bukhari Bab Adzan)
RIWAYAT TSIQAH LAINNYA
TENTANG KERAMAT PARA SAHABAT DAN IMAM IMAM
Berkata Imam Al Khazin : telah
diriwayatkan dari Abu Sa’id Alkhudri ra Sungguh Rasulullah saw bersabda :
“hati – hatilah pada firasat orang mukmin, sungguh (firasat) dia itu
melihat dengan Cahaya Allah” (diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam
kitabnya Attaarikh, dan Ibn Jarir, Ibn Hatim, Ibn Sunniy, Abu Nu’aim,
dan diriwayatkan pula oleh Imam Attirmidziy dan Imam Attabrani, dan
diriwayatkan pula oleh Ibn Jarir dari Ibn Umar ra)
Dan pada para ulama dan para pemilik
anugerah, bahwa pada firasat mereka teriwayatkan dengan kabar dan
riwayat yang masyhur, diantaranya dikatakan oleh Al hafidh pada kitabnya
“Tawaali Atta’sis” berkata Assaajiy, berkata padaku Abu Dawud, berkata
kepadaku Qutaybah, berkata pada Abdu Hamiid, aku keluar bersama Imam
Syafii dari Makkah, maka kami bertemu seorang lelaki di Abtah, maka
kukatakan pada Imam Syafii : “Tebak keberadaan lelaki itu..?”, maka
berkata Imam Syafii : “Dia itu tukang kayu, atau penjahit!”, maka
kutanya pada lelaki itu seraya berkata : “Dulu aku tukang kayu dan
sekarang penjahit”,
Diriwayatkan pula oleh Al Hakim dari
riwayat lain, dari Qutaybah berkata : “Kulihat Muhammad bin Alhasan dan
Imam Syafii duduk berdua diteras Ka’bah, maka lewatlah seorang lelaki,
maka berkatalah salah satu dari mereka : “kemarilah kami akan menebak
pekerjaanmu, maka berkata salah satu dari mereka (Muhammad bin Alhasan
dan Imam Syafii) engkau adalah Penjahit!, dan berkata yg lainnya :
Engkau adalah tukang kayu!, maka berkata orang itu : “dulu aku penjahit
dan sekarang tukang kayu”.
Berkata Al Hafidh : sanad kedua riwayat diatas shahih.
(Tuhfatul ahwadziy bisyarh Jami Tirmidziy Bab : Min Suuratil Hijr Juz 8 /556)
Diriwayatkan berkenaan syarh hadits
firasah, bahwa Ustman bin Affan ra dikunjungi beberapa sahabatnya, dan
diantara mereka memandang pada seorang wanita, maka berkata Utsman bin
Affan ra : “salah satu dari kalian masuk kerumahku dengan mata yang
berzina!”, maka berkatalah seorang dari mereka dengan kagetnya : “Apakah
ada wahyu setelah Rasulullah..??” (maksudnya pembicaraan yang membuka
masalah gaib dan tersembuny atau kasyaf), maka berkata Utsman bin Affan
ra: “Bukan wahyu, namun firasat yang benar!”. (Syarh Musnad Abi Hanifah
juz 1 /566).
Rasul saw bersabda seraya menunjuk kearah
Yaman : “Iman adalah di Yaman, disanalah.. disanalah..” (Shahih Bukhari
Bab Bad’ul Khalq)
Berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy
bahwa dalam makna hadits ini telah jelas dan merupakan hal yang salah
jika sebagian orang mengatakan yang dimaksud penduduk Yaman adalah
Anshar, karena kaum Anshar berasal dari Yaman, namun penunjukkan
telunjuk beliau saw kearah Yaman telah menafikan sangkaan itu, dan
jelaslah yang dimaksud adalah Penduduk Yaman (Fathul Baari bisyarh
Shahih Bukhari Bab Bad’ul Khalq)
Sedangkan Hadramaut berada di Yaman,
jelaslah semua fitnah kepada ahlul Yaman telah dijawab oleh Rasulullah
saw dengan jelas, hal ini menunjukkan bahwa Rasul saw sudah mengetahui
akan datang kelak fitnah dan tuduhan keji pada Ahlul Yaman, dan Rasul
saw telah menjawabnya, keimanan penduduk Yaman diakui oleh Rasulullah
saw, namun didustakan oleh mereka ini, Shadaqa Rasulullah saw. Semoga
Allah mencurahkan Hidayah.
Bagikan
II.36. JAWABAN ATAS PENGHINAAN TERHADAP ULAMA HADRAMAUT, YAMAN
4/
5
Oleh
Fatima

