Dalam kitab Shahih Bukhari,
منْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang membenci pada
Penguasanya suatu hal maka hendaknya ia bersabar, sungguh barangsiapa
yang keluar dari perintah sultan (penguasa) sejengkal saja maka ia mati
dalam kematian jahiliyah” (Shahih Bukhari Bab Fitnah dari ibnu Abbas)
مَنْ
رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ
مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً
جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melihat hal pada
penguasanya sesuatu yang tidak disukainya maka hendaknya ia bersabar,
sungguh barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja, lalu ia
wafat maka ia wafat dengan kematian jahiliyah” (Shahih Bukhari Bab
Fitnah dari ibnu Abbas)
Berkata zubair bin Adiy ra : kami
mendatangi Anas bin Malik mengadukan kekejian Hajjaj dan kejahatannya
pada kami, maka berkata Anas ra : “Bersabarlah kalian, karena tiadalah
datang masa kecuali yang sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian akan
menemui Tuhan kalian, kudengar ini dari Nabi kalian (Muhammad saw)”
(Shahih Bukhari Bab Fitnah)
Sabda Rasulullah saw : “dengar dan
patuhlah bagi penguasa seorang muslim selama ia tak diperintah berbuat
maksiat, bila ia diperintah berbuat maksiat maka tak perlu dengar dan
patuh” (Shahih Bukhari Bab Ahkam dari Abdullah)
Kesimpulannya adalah Rasulullah saw dan
kesemua para Imam dan Muhaddits ahlussunnah waljamaah tidak satupun
menyerukan pemberontakan dan kudeta, selama pemimpin mereka muslim maka
jika diperintah maksiat mereka tidak perlu taat, bila diperintah selain
dosa maka mereka taati,
Sebagaimana dimasa merekapun terdapat
kepemimpinan yang dhalim, walau berkedok dengan nama “KHALIFAH” namun
mereka dhalim, diantaranya Hajjaj yang sering membantai dan menyiksa
rakyatnya, namun ketika mereka mengadukan pada Anas ra, maka mereka
diperintahkan bersabar, bukan diperintahkan merebut Khilafah dengan
alasan khalifah itu dhalim,
Negeri kita ini muslim, pemimpinnya
muslim, menteri – menterinya mayoritas muslimin, mayoritas masyarakatnya
muslimin, maka apalagi yang mesti ditegakkan?, ini adalah khilafah
islamiyah (kepemimpinan islam), adakah presiden kita melarang shalat?,
adakah pemimpin kita melarang puasa ramadhan?,
Mengenai kesalahan kesalahan lainnya selama ia seorang muslim maka kita diperintah oleh Rasul saw untuk bersabar,
Dan para Imam dan Muhaddits itu tak satupun menyerukan kudeta dan penjatuhan kekuasaan dari seorang pemimpin muslim,
Ringkasnya saudaraku, berkoar – koar
meneriakkan khilafah islamiyah adalah perbuatan kesusu, berdakwahlah
pada muslimin sedikit demi sedikit hingga dalam bertetangga, di tempat
kerja, di masyarakat, maka pelahan akan muncul Ketua RT yang mencintai
syariah dan sunnah,
Maka berlanjut dengan Ketua RW yang
terpilih adalah Ketua RW yang mencintai syariah dan sunnah, Ketua RW
yang mendukung majelis taklim dan melarang panggung maksiat, Ketua RW
yang tak mau menandatangani pembangunan diskotek dan berdirinya tempat
peribadatan non muslim di wilayah mayoritas muslimin, dan bila dakwah di
masyarakat makin meluas akan sampai terpilihlah lurah yang demikian
pula, lalu meningkat ke Bupati dan seterusnya. Ini akan tercapai dengan
pelahan lahan tetapi pasti, dan negara akan ikut apa keinginan mayoritas
rakyatnya, demikian pula televisi, radio, majalah, dan kesemuanya, tak
ada diskotek bila tak ada pengunjungnya, tak ada miras dan narkoba bila
tak ada yang membelinya, tak ada blue film bila tak ada yang mau
menontonnya, ini semua akan sangat mudah,
Karena khilafah islamiyah dengan syariah
islam bila ditegakkan sekarang maka yang akan menolaknya adalah muslimin
sendiri, mereka tak mau kehilangan diskoteknya, mereka tak mau
kehilangan mirasnya, mereka tak mau menutup auratnya, nah.., maka bagi
yang berkeinginan menegakkan Khilafah islamiyah agar meratakan shaf dan
terjun berdakwah mengenalkan sunnah dan Nabi Muhammad Saw sebagai idola
muslimin,
Bukan berkoar – koar khilafah islamiyah
lalu menuding muslimin lainnya sesat karena menolak khilafah dari
golongan mereka, lalu saling bunuh antara muslimin demi kepemimpinan
dari fihak mereka, sungguh metode Nabi saw ini sangat strategis dengan
strategi keamanan yang sempurna, Rasul saw mengetahui akan banyak
penguasa muslim yang dholim, namun Rasul saw memerintahkan kita bersabar
atas mereka, kenapa?, karena jika muslimin berontak maka mereka akan
dibantai penguasa yang dholim itu, maka orang orang baik dan ulama akan
jadi sasarannya, padahal orag orang baik, orang shalih, dan ulama sangat
diharapkan menyiapkan generasi baru yang baik untuk kelak menggantikan
penguasa dholim itu, namun hal itu menjadi sulit dan mustahil jika
ulama, shalihin dan orang baik memerangi penguasa, maka mereka dibantai
dan masyarakat semakin kehilangan ulama, dan itu memperburuk keadaan,
Dan keadaan ini akan membuat terbahak
bahaknya musuh musuh islam, mereka tak perlu menyerang muslimin, karena
muslimin sudah saling bantai antara ulama dan penguasanya, dan islam
akan semakin bobrok dan hancur, sungguh sempurna strategi sang nabi saw,
bersabar demi pembenahan dan regenerasi.
Bagikan
II.31. DAULAH ISLAMIYYAH
4/
5
Oleh
Fatima

